Sejarah Perkembangan Film Di Indonesia

Hai-hai, annyeongggg... maaf nih, baru sempet update lagi huhuhu

kali ini, aku mau update tentang sejarah perkembangan film di Indonesia. karena terlalu panjang, aku pakai Bahasa Indonesia aja ya :3 hihihi

hmm yang aku update kali ini, ambil copas sih, dari sebuah buku PDF yang di sebar melalui internet oleh seorang anak mahasiswa perfilman di salah satu universitas di Indonesia. Pasti penasaran kan? kenapa aku membuka sejarah tersebut? karenaaaaaa, aku yang memiliki ketertarikan terhadap film dan sedang bersekolah di salah satu universitas di korea jurusan film ini merasa penasaran, dan ingin mengetahui tentang sejarah film di Indonesia, Negara tempat aku dilahirkan :3

Jadi gini, sebenarnya Film di Indonesia itu pertamakali diperkenalkan pada tanggal 5 Desember 1900 di Batavia (aka Jakarta). Pada masa itu film disebut dengan sebutan "Gambar Idoep”. Pertunjukkan film pertama digelar di Tanah Abang. Film tersebut adalah sebuah film bergenre dokumenter yang menggambarkan perjalanan Ratu dan Raja Belanda di Den Haag. Pertunjukan pertama ini kurang sukses karena harga karcisnya dianggap terlalu mahal. Sehingga pada 1 Januari 1901, harga karcis dikurangi hingga 75% untuk merangsang minat penonton.

Film cerita pertama kali dikenal di Indonesia pada tahun 1905 yang diimpor dari Amerika. Film-film impor ini berubah judul ke dalam bahasa Melayu. Film cerita impor ini cukup laku di Indonesia. Jumlah penonton dan bioskop pun meningkat. Daya tarik tontonan baru ini ternyata mengagumkan.

Pada tahun 1926, Indonesia membuat film lokal pertama yang berjudul Loetoeng Kasaroeng diproduksi oleh NV Java Film Company. menyusul selanjutnya adalah Eulis Atjih yang diproduksi oleh perusahaan yang sama. Setelah film kedua ini diproduksi, muncul perusahaan-perusahaan film lainnya seperti Halimun Film Bandung yang membuat Lily van Java dan Central Java Film Coy (Semarang) yang memproduksi Setangan Berlumur Darah.

Industri film lokal sendiri baru bisa membuat film bersuara pada tahun 1931. Film ini diproduksi oleh Tans Film Company bekerjasama dengan Kruegers Film Bedrif di Bandung dengan judul Atma de Vischer. Selama kurun waktu itu (1926-1931) sebanyak 21 judul film (bisu dan bersuara) diproduksi. Jumlah bioskop meningkat dengan pesat. Filmrueve (majalah film pada masa itu) pada tahun 1936 mencatat adanya 227 bioskop.

Untuk lebih mempopulerkan film Indonesia, Djamaludin Malik mendorong adanya Festival Film Indonesia (FFI) I pada tanggal 30 Maret-5 April 1955, setelah sebelumnya pada 30 Agustus 1954 terbentuk PPFI (Persatuan Perusahaan Film Indonesia). Film Jam Malam karya Usmar Ismail tampil sebagai film terbaik dalam festival ini. Film ini sekaligus terpilih mewakili Indonesia dalam Festival Film Asia II di Singapura. Film ini dianggap karya terbaik Usmar Ismail. Sebuah film yang menyampaikan kritik sosial yang sangat tajam mengenai para bekas pejuang setelah kemerdekaan.

Bangkitnya dunia perfilman Indonesia

Tahun 1970-an itu, bisa dibilang sebagai bangkitnya era perfilman Indonesia, Mungkin yang lahir di era tersebut (Aku lahir tahun 1996) masih terngiang-ngiang dengan film-film lama seperti Ali Topan Anak Jalanan, Romi dan Yuli, dan lain sebagainya, meski demikian jumlah film yang di produksi saat itu masih 604 judul, tapi semuanya berkualitas. dan dialog masih sangat kaku dengan menggunakan kata ganti AKU dan KAU. (asal ga pakai nge-iklan ya, hihihi)

Memasuki era 1980-an produksi film di tanah air menjadi 721 judul film, Temanya juga bervariasi, era itu adalah eranya Warkop dan H. Rhoma Irama film-film mereka selalu laris bak kacang goreng. Salah satu momentum bersejarah di era 1980-an adalah screeningnya film Pengkhianatan G-30S/PKI yang penontonnya (meskipun ada campur tangan pemerintah Orde Baru) sebanyak 699.282. di akhir era 1980-an nama Lupus dan Catatan si Boy menjadi ikon tersendiri. Menjelang era 1990-an film-film karya Cinta dalam Sepotong Roti mampu memenangkan berbagai penghargaan di festival film internasional. Hebat ya?!?!?!

Ada masa dimana dunia perfilman Indonesia terpuruk

Di era 1990-an dapat disebut sebagai kiamatnya perfilman Indonesia, kenapa? karena disebabkan oleh maraknya sinetron di televisi-televisi swasta. Otomatis, semua aktor dan aktris panggung dan layar lebar beralih ke layar kaca. Selain itu tema yang selalu menjadi Bumerang bagi perfilman tanah air adalah tema Horror sex, di era 1990-an judul-judul film Indonesia amat sangat vulgar contoh Misteri Janda Kembang, Noktah merah perkawinan, Gairah Terlarang, Meski sejumlah aktor Hollywood kelas B seperti Frank Zagarino, Chintya Rothrock, David Bradley turut meriahkan dunia film tanah air, kondisi penonton tetap tak berubah, Mimin masih ingat judul film warkop terakhir di layar lebar yaitu "Saya duluan dong" setelah itu film tanah air jadi mati suri... Anehnya saat terpuruknya perfilman tanah air banyak yang menyalahkan pihak Amerika (Hollywood) dan Bioskop 21. Namun di sisi lain, di era 1990-an banyak komunitas film-film independen. Beliau-beliau inilah yang akan membangkitkan perfilman tanah air di awal 2000-an.

Dunia perfilman Indonesia yang kembali bangkit

Awal 2000-an sempat muncul salah satu film anak yang menjadi legendaris saat itu, "Petualangan Sherina" dibintangi Derby Romeo, dan Sherina Munaf. Film ini adalah oase di tengah sepinya bioskop tanah air. Lalu di tahun 2002 muncul pula film fenomenal lainnya yaitu "Ada Apa Dengan Cinta", "Jaelangkung", dan lain-lain. Film Indonesia pun menemukan kembali ruhnya. Genre film juga kian variatif, alhasil di tahun-tahun berikutnya penonton mulai tertarik untuk menonton film Nasional, film-film seperti "Heart", "Naga Bonar Jadi Dua", "Ayat-Ayat Cinta" adalah film-film yang mendapat jumlah penonton tertinggi. Bahkan Film Indonesia mampu bersaing dengan film Hollywood secara sehat.

Meski Demikian Perfilman Indonesia masih saja dirusak oleh oknum-oknum Mr. X yang hanya mencari keuntungan kesempatan dalam kesempitan dengan membuat film-film Horror Sex, hal ini justru membuat Film Nasional yang bagus menjadi seperti batu diantara lelumutan, lama-lama lumut itu bisa menghancurkan batu itu sendiri, meski sekokoh apapun batu itu.

Di tahun 2011 terjadilah sebuah peristiwa yang justru menjadi Bumerang bagi perfilman tanah air, yaitu Kisruh Film Impor, apalagi di tahun itu Film-film Horror Sex seperti "Goyang Jupe-Depe" dan lain sebagainya menjadi Jamur, Menjamur dimana-mana. Penonton menjadi risih, mereka menginginkan Hollywood kembali seperti dulu, meskipun diantara menjamurnya film Horror Sex itu terdapat film - film berkualitas seperti "tanda tanya" Hanung Bramantyo.

Seiring berjalannya waktu, film-film dengan genre Horror Sex ini menjadi semakin sedikit di tahun ini. sementara film-film Berkualitas seperti The Raid, 5 CM, Garuda di Dadaku, semakin banyak.

Tapiiii, saying seribu saying nih, sifat orang Indonesia masih suka latah, jadi maksudnya itu, jika sedang ramai horor, banyak yang mengambil tema horor, begitu juga dengan tema-tema remaja/anak sekolah. lihat saja setelah sukses AADC, Muncul film Cinta Pertama, atau film-film cinta lainnya setelah sukses Laskar Pelangi muncul pula film dengan genre yang sama, dan sudah berapa banyak film-film anak yang meski berkualitas tapi kurang laku. Setelah sukses film Ayat-ayat cinta dan Ketika Cinta Bertasbih, film-film seperti Perempuan berkalung Sorban malah hadir. Tak cuma itu, Sinetron-sinetron tentang religi percintaan pun sudah gak keitung lagi jumlahnya.

Latah, mungkin gak hanya di alami orang Indonesia, sebenernya di dunia perfilman Hollywood juga begitu. Kalau di amati dengan teliti, tema-tema yang diusung film Hollywood saat ini sebagian besar diangkat dari Novel, atau Komik, tapi yang menjadi kekuatan adalah bagaimana cara mereka meramu dan mengemasnya sehingga terlihat menjadi cantik dan menarik, walaupun terkadang ramuan mereka terasa sinting, seperti mengubah-ubah dongeng, atau menggunakan efek-efek yang diluar nalar manusia.

hmm itu sih ga lepas sama sifat manusia  yang selalu ingin sesuatu yang baru. jadiii hal inilah yang dimanfaatkan Hollywood, Korea, India, atau negara yang maju di dunia perfilman lainnya.

Makasih ya, sudah mampir di blog aku :3 makasih sudah baca sampai akhir hehehe

Selamat beraktivitas kembali, selamat beristirahat, annyeong ♥
 

Comments

Popular posts from this blog

Visit Find Kapoor Store in Seoul

Go To Art Box at Myeongdong, Seoul, South Korea

Visit SMTOWN COEX ARTIUM